Tampilkan postingan dengan label Lain-lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lain-lain. Tampilkan semua postingan

Lipoma

Lipoma adalah tumor jinak mesenkhimal yang berasal dari sel lemak. Lipoma dapat muncul di selutuh permukaan tubuh dengan prevalensi terbesar berada di daerah dengan jaringan lemak yang banyak (punggung, pangkal paha, lengan dll). Jika terdapat banyak disebut lipomatosis.

Tumor jenis ini tumbuh lambat. Memiliki batas dengan jaringan yang tidak nyata. Kapsul yang membungkus merupakan pseudokapsul yang berasal dari jaringan normal yang terdesak oleh pertumbuhan jaringan tumor. Oleh karena berasal dari jaringan lemak yang tidak rata maka akan muncul gambaran pseudolobulated pada palpasi. Oleh karena sifat sel lemak yang lunak seperti cairan maka sering dikatakan sebagai pseudokistik.

Penanganan tumor jinak ini dengan cara eksisi. Dengan anestesi umum atau lokal anestesi dilakukan eksisi lipoma. Tehnik anestesi lokal yang sering dilakukan adalah dengan infiltrasi. Lakukan infiltrasi disekitar lipoma dengan Lidocain 2 % hingga seluruh tepi masa terinfiltrasi. Lakukan insisi diatas masa, perdalam lapis demi lapis. Masa lipoma diangkat dengan bantuan klem/clam/pean. Masa tumor harus diangkat seluruhnya berikut jaringan sehat disekitarnya. Seandainya ada bagian yang tertinggal akan residif.

Uretritis


Infeksi saluran kencing akhir akhir ini sangat sering dijumpai di poliklinik. Mayoritas pasien adalah pasien usia produktif. Infeksi saluran kencing yang sering disingkat ISK adalah respon inflamatorik dari saluran kencing oleh karena mikroorganisme, baik  bakteri, virus ataupun jamur. Istilah ISK mencakup infeksi pada ginjal, saluran kencing dibawah ginjal (ureter), kandung kencing, buah pelir, prostat dan alat kelamin. Oleh karena cakupan penyakit yang sangat luas maka gejala yang dirasakan juga sangat variatif.

Untuk saat ini akan kami bicarakan adalah uretritis. Uretritis adalah radang pada uretra. Dalam bahasa awam infeksi saluran kencing yang di penis ataupun saluran dan lubang kencing wanita.

Keluhan utama dari pasien ini antara lain rasa nyeri yang sangat pada daerah alat kelamin. Rasa nyeri ini biasa dirasakan di ujung penis atau pangkal penis pada laki laki dan nyeri pada alat kelamin pada wanita. Selain itu sering juga dikeluhkan adanya cairan/nanah yang keluar dari alat kelamin. Cairan yang keluar dapat berupa cairan bening hingga kuning kental tergantung jenis kuman penyebabnya. Cairan yang jernih biasanya karena infeksi klamidia dan cairan yang kuning dan banyak biasa pada gonorhoe (wujudnya purulent).
Selain rasa nyeri dan keluarnya cairan penderita biasa menderita demam. Demam dapat demam tinggi ataupun “nglemeng” saja. Pada pasien dengan kekebalan tubuh yang rendah (pasien HIV/AIDS, dalam terapi kortikosteroid, kanker ataupun kurag gizi) sering tidak dijumpai adanya demam. Demam muncul sebagai respon tubuh terhadap infeksi. Kuman penyakit yang masuk kedalam tubuh akan dibasmi oleh sel kekebalan tubuh. Kuman penyakit, racun kuman penyakit dan sisa kuman dapat mengakibatkan demam.
Kuman penyakit menginfeksi uretra dapat berasal dari:
  1. Hematogen. Dikatakan hematogen jika infeksi disebarkan ke uretra melalui perdaran darah. Contohnya pada pasien TBC paru paru, kuman M.tuberculosa ikut aliran darah dan akhirnya menginfeksi jaringan yang jauh dari paru par, dalam hal ini uretra. Kejadian infeksi cara ini sangat jarang (bahkan belum pernah saya temui di poliklinik). Infeksi cara ini pada saluran kencing kadang dijumpai pada infeksi ginjal, buah pelir dan prostat, hal ini karena ginjal, buah pelir dan apex (ujung) prostat memiliki aliran darah yang relative lebih banyak sehingga kemungkinannya lebih besar. Sedangkan bagian lain relative jarang.
  2. Percontinuitatum, jika kuman infeksi  berasal dari jaringan sekitar uretra dan meluas ke uretra. Contohnya pada infeksi di kulub (preputium penis) dan menyebar ke uretra.
  3. Ascenden, jika kuman naik dari ujung penis ke tengah/pangkal penis. Kejadian infeksi dengan cara ini sangat sering. Contoh kejadian infeksi ini adalah karena berhubungan seksual dengan orang yang menderita sakit/infeksi saluran kencing sehingga tertular.
Sedikit pembeda antara percontinuitatum dan ascenden adalah jika ascenden maka jaringan di sekitar uretra belum tentu terinfeksi. Sedangkan pada perkontinuitatum jaringan sekitar uretra terinfeksi dan baru menyebar ke uretra.
Ada pertanyaan: Pasien A: dokter saya berhubungan dengan pacar saya yang sehat/ tidak terinfeksi saluran kencing kok saya jadi infeksi saluran kencing ya?
Sering kita jumpai seseorang yang sebetulnya terinfeksi oleh suatu kuman penyakit tetapi tidak menunjukkan gejala. Hal ini mungkin karena orang tersebut memiliki kekebalan tubuh yang baik ataupun sel orang tersebut “lain”. Untuk dapat terjadi infeksi, kuman penyakit harus menempel pada sel tubuh manusia. Untuk menempel diperlukan permukaan tertentu dari kuman dan reseptor yang khas pada sel manusia. Jika reseptor di permukaan sel manusia tidak cocok, maka seberapapun banyaknya kuman yang masuk tidak akan menyebabkan infeksi. Seandainya kuman penyakit menempel ke sel yang memiliki reseptor yang sesuai (pasien A) maka dia akan terinfeksi.
Ada pertanyaan: Pasien B: dokter saya baru menikah. Isteri saya masih gadis. Tetapi setelah melakukan hubungan kok saya jadi ISK ya? Apakah isteri saya sebetulnya “sudah pernah”?
Struktur alat kelamin pria dan wanita sangat berbeda. Uretra laki laki panjang (oleh karena berada di ujung penis). Sedangakan uretra wanita pendek (langsung terbuka didekat vagina). Oleh karena vagina dan uretra langsung terbuka di dekat anus, terdapat kemungkinan kuman dari anus menyebar ke uretra dan vagina. Hal ini sangat mudah terjadi apalagi jika saat cebok air terciprat ke vagina atau air dari anus menyiram vagina.
Ada pertanyaan: Pasien C: dokter saya baru saja menikah. Saya hanya berhubungan dengan suami saya dan sangat aktif. Tetapi kok saya merasa sering anyang-anyangen sekarang?
Dalam istilah medis dikatakan honeymoon cystitis. Hal ini karena terlalu aktif dan kebersihan saat melakukan yang kurang baik.
Pengobatan untuk uretritis bacterial terutama antibiotic dan analgetik. Untuk uretritis jamur digunakan antifungal. Dan jika karena virus umumnya dilakukan pemberian terapi suportif dan simptomatik.
Terapi suportif yang dapat dilakukan adalah banyak minum. Dengan banyak minum diharapkan produksi urine meningkat. Dengan urine yang banyak maka kuman akan terbasuh keluar (dalam bahasa medis flushing).
Hal yang sangat perlu diperhatikan pada pasien uretritis:
1.      Terapi harus benar-benar tuntas. Oleh karena jika tidak tuntas biasanya akan kambuh lagi. Kuman akan menjadi kebal terhadap antibiotic. Jika antibiotik  yang diberikan tidak mempan harus diganti dengan antibiotic jenis lain. Jika infeksi karena jamur berikanlah antifungal, karena jika diberikan antibiotic tidak akan membaik, bahkan jamur akan menjadi. Lama pemberian terapi sangat variatif antar pasien, tetapi harus yakin benar benar bersih.
2.      Obatilah pasangan anda. Dalam bahasa kedokteran sering dikatakan “pingpong transmission” pada pasien ISK. Maksudnya: jika laki laki ISK dan selesai diterapi sedang wanita tidak diterapi maka setelah berhubungan akan tertular lagi.
3.      Setelah ISK pasien mungkin akan mengalami
A.    striktur uretra (penyempitan saluran kencing). Jika parah dapat terjadi tidak dapat kencing (retensi urine). Terjadinya striktur uretra biasanya terjadi setelah 15 tahun setelah infeksi. Meskipun demikian jika infeksi berat maka striktur dapat terjadi beberapa tahun saja setelah infeksi.
B.     Kemandulan (infertilitas), hal ini karena saluran benih tersumbat akibat dari infeksi tersebut. Jika saluran benih pria tersumbat, agar dapat memiliki anak harus dengan bantuan medis, dapat menghubungi Dokter Urologi untuk terapinya.

Minuman Beroksigen

Minuman beroksigen saat ini marak di Indonesia. Dalam iklan, dikatakan minuman ini sangat baik untuk kesehatan, meningkatkan vitalitas dan sebagainya. Apakah ini benar?
Terdapat banyak merk minuman, bahkan ada minuman dengan jenis oksigen 03 (atau oksigen aktif seperti ozone). Air minum dalam kemasan ini dikatakan memiliki konsentrasi yang tinggi.
Kita  tidak boleh gegabah menentukan benar tidaknya iklan ini semua. Ada beberapa hal yang perlu kita pertimbangkan dalam menentukan hal ini:
  1. suatu gas terlarut dalam suatu cairan akan membentuk keseimbangan dengan udara dipermukaannya. Dalam kalimat sederhana: tidaklah mungkin suatu gas (oksigen) menetap didalam cairan dalam konsentrasi yang tinggi sedangkan udara dipermukaannya miskin oksigen. Oksigen dari cairan akan terlepas kepermukaan hingga terjadi keseimbangan. Jumlah oksigen yang terlepas dari dalam cairan mengikuti koefisien tertentu sesuai jenis cairan. Kecepatan lepasnya ke permukaan sangat dipengaruhi luas permukaan. Oksigen dalam kadar yang lebih tinggi dapat terlarut jika: terdapat zat pelarut/agen tertentu yang menempelkan oksigen ke molekul air atau disimpan dalam tekanan. disimpan dalam tekanan maksudnya ruang udara dipermukaan air memiliki tekanan oksigen yang mampu membuat oksigen dalam air lebih tinggi dari normal, sehingga diperlukan botol yang mampu menahan tekanan udara tersebut. Dalam minuman beroksigen sering dikatakan berisi air, elektrolit dan tidak terdapat agen pelarut oksigen. mungkin kita akan bertanya bagaimana oksigen dapat berkonsentrasi tinggi????  Saat membuka botol minuman beroksigen terdengar suara berdesis. Hal ini “MUNGKIN” dikarenakan lepasnya oksigen. untuk membuktikan kemungkinan itu maka kita dapat melakukan percobaan sederhana. Nyalakanlah korek api, kemudian matikan. Saat bara api korek api masih menyala dekatkan dengan tutup botol dan bukalah. Jika bara api lebih terang kemungkinan memang oksigen. Tetapi jika tetap redup???? Untuk minuman tanpa agen pelarut oksigen (tidak tertera di tabel komposisi) dan dengan percobaan sederhana diatas tidak menyebabkan bara menjadi terang kemungkinan tidak terdapat tambahan oksigen.
  2. Organ tubuh manusia tidak semuanya dapat mengambil oksigen bebas untuk dimetabolisme langsung. Pada ikan oksigen diserap dari air dengan bantuan insang. Pada ayam menyerap oksigen dengan paru paru. Pada manusia oksigen diserap dari udara oleh paru paru. Meskipun demikian terdapat organ tubuh yang mampu menyerap oksigen. Organ tubuh itu antara lain sinus paranasales (rongga rongga tulang disekitar hidung), cellulae mastoidea (rongga tulang dibelakang telinga) dan lensa mata. Sedangkan usus tidak dapat menyerap udara.
Berikut ini bukti pernyataan diatas:
  1. sinus paranasales (rongga tulang sekitar hidung). Sinus paranasales berhubungan dengan saluran nafas dengan dihubungkan suatu lubang kecil. Saat kita mengalami infeksi saluran nafas, sangat mungkin lubang tersebut sembab, sehingga udara tidak dapat keluar masuk rongga tersebut. Beberapa hari kemudian kita akan merasa “kemeng” (atau dalam bahasa Indonesia pegel) di daerah tersebut. Hal ini dikarenakan udara terserap oleh rongga tersebut. Seandainya keadaan berlanjut maka akan terbentuk tekanan “negatif” di sinus tersebut. Tekanan negatif akan menyebabkan terjadinya transudat dan akhirnya  akan  menjadi eksudat terinfeksi. Keadaan ini sering kita sebut sinusitis.
  2. Bukti cellulae mastoidea menyerap udara adalah saat terjadi mastoiditis dan otitis media. Saat tuba Eustachii tersumbat karena sembab/ terinfeksi maka udara tidak dapat mengalir dari saluran nafas ke telinga tengah. Karena cellulae mastoidea terus menyerap udara maka akan muncul tekanan negatif. hal ini dapat dilihat pada gendang telinga menjadi lebih cekung dengan bantuan otoscope.
  3. bukti lensa mata menyerap oksigen dari udara dengan difusi memang sulit. Saya belum menemukan penjelasan yang jelas.
  4. BUkti bahwa saluran cerna tidak menyerap udara adalah pada pasien ileus obstruktivus (sumbatan saluran pencernaan baik karena tumor, jeratan atau lainya). Pada pasien tersebut usus disebelah atas (sisi oral sumbatan) akan menggembung sedang sisi bawahnya akan kolaps. Sisi bawah/sisi anal kolaps karena udara usus terdorong peristaltik ke anus dan menjadi kentut (jika sudah habis maka tak ada kentut lagi). Sedang sisi Oral/kearah mulut akan menggembung karena saat bicara/merokok udara ikut tertelan, saat disorong peristaltik akan terhenti di sumbatan. Sehingga udara tertimbun. Itulah bukti saluran cerna tidak menyerap udara.
Ada pertanyaan: mengapa setelah saya minum minuman beroksigen menjadi segar? hal itu sangat mungkin karena perasaaan subjektif saja. Banyak hal di diri kita sangat dipengaruhi psikologis. Meskipun tidak ada bukti hal tersebut memang berguna bagi tubuh.

Setelah membaca tulisan ini apakah saudara masih akan membeli minuman beroksigen yang relatif mahal itu???????

Khitan

Khitan yang dalam bahasa medis disebut sirkumsisi adalah tindakan memotong kulub (preputium penis secara melingkar.  Tujuan dari tindakan ini adalah alasan adat, keagamaan dan kesehatan. Alasan lesehatan tindakan ini antara lain:
  1. Agar penis bersih. Pada pria yang tidak disirkumsisi akan terkumpul smegma yaitu kotoran diantara kulub dengan kepala penis. Kotoran ini sangat baik untuk tumbuhnya bakteri yang dapat mengakibatkan infeksi. Infeksi pada kulub (preputium penis) disebut phostitis. Infeksi ini jika berlanjut akan menyebar hingga ke kepala penis disebut balanophostitis. Infeksi yang berlanjut dapat mengakibatkan lubang kencing yang disebut meatal stenosis. Kasus kanker penis sangat tinggi pada pria yang tidak dikhitan .
  2. Pada pasien fimosis dan parafimosis.  Fimosis adalah keadaan dimana kulub tidak dapat ditarik hingga kepangkal leher penis. Tidak semua grade fimosis perlu dikhitan, perlu dikhitan jika kencing tidak lancar/tersumbat karenanya. Selain itu, pasiem fimosis perlu dikhitan jika terjadi infeksi daluran kencing. Tindakan khitan dilaksanakan setelah infeksi ditangani/disembuhkan. Parafimosis adalah keadaan dimana kulub tidak dapat ditarik untuk menutup kepala penis. Keadaan ini berbahaya, jika terjadi lama maka kepala penis terjerat dan membusuk karena aliran darah tidak lancar.
Khitan tidak boleh dilakukan pada pasien hipospadia. Hipospadia adalah keadaan dimana lubang kencing tidak diujung penis. Dalam bahasa awam “sudah khitan sejak lahir” atau dikhitan hantu/jin. Mengapa pada keadaan ini  tidak boleh dikhitan? Karena kulit kulub yang dibuang saat khitan akan digunakan untuk membuat saluran kencing agar berada diujung penis.

Keadaan gangguan pembekuan darah perlu diperhatikan sebelum khitan. Jika keadaan ini terjadi maka sebaiknya khitan dilakukan oleh urolog.

Khitan telah dilakukan sejak zaman prasejarah. Meskipun demikian, lhitan yang dilakukan oleh tenaga non medis sering bukan sirkumsisi, tetapi hanya dorsumsisi. Perbedaan mendasar antara dorsumsisi dan sirkumsisi adalah: dorsumsisi hanya memotong sebagian kulub sisi dorsal sedang bagian preputium tidak dipotong. (bagian yang menghubungkan antata kulub dan kepala penis tidak dipotong, sebingga akan tampak menggelambir setelah dorsumsisi). Tindakan ini dahulu dilakukan karena pada daerah preputium terdapat banyak pembuluh darah dan dapat terjadi pendarahan. Dengan kemajuam pengetahuan, control pendarahan dapat dilakukan, sehingga sebaiknya dilakukan sirkumsisi.

Tindakan sirkumsisi diawali dengan pembiusan. Pembiusan dapat dengan bius umum ataupun bius local. Tehnik bius umum sangat membantu terutama pada anak kecil yang tidak kooperatif. Bius local dapat dilakukan dengan blok, infiltrasi ataupun semprot.
Ada berbagai cara memotong kulub (preputium penis). Tehnik tradisional sering menggunakan benda tajam yang tidak steril, contohnya bilah bambu, ataupun pisau tidak steril. Tehnik ini sering dilakukan dukun. Dengan menggunakan alat yang tidak steril maka kemungkinan untuk terjadi infeksi di luka sayatan sangat besar. Infeksi dapat merambat/meluas.
Pada sekitar tahun 1900 awal diperkenalkanlah Gonco klem. Tehnik ini pada dasarnya adalah menghambat aliran darah ke ujung kulub. Dengan terhambatnya aliran darah maka pendarahan saat khitan sangat sedikit.



Pada awalnya Gomco klem terbuat dari logam sehingga relatif berat dan tidak nyaman. Seiring dengan perkembangan jaman Gomco klem mulai diproduksi dari bahan plastik. Klem plastik ini sangat banyak diproduksi dari China. Dengan terbuat dari plastik, klem ini ringan dan sangat murah. Bentuk sangat bervariasi, yang intinya adalah menghambat aliran darah ke ujung kulub. Perkembangan tehnik juga terjadi. Dahulu, kulub tidak dipotong dan hanya diklem saja. Dengan di klem saja maka kulub akan tidak mendapat darah dan lambat laun akan mati, tetapi jaringan yang mati akan banyak. Perkembangan berikutnya, Gomco klem dipasang, dan saat itu juga dipotong ujung kulubnya. Dengan cara ini perdarahan akan minimal. Keuntungan tehnik ini adalah pendarahan yang sangat minimal. Kelemahan tehnik ini adalah terjadinya jaringan mati yang merupakan tempat berkembang biaknya kuman, penyembuhan akan relatif tidak baik. Penyembuhan tidak baik karena luka tidak dipotong tajam, sehinga jaringan parut akan luas. Jaringan parut luas yang lambat laun akan mencekam ujung penis. Ada kemungkinan kepala penis akan mengecil di masa datang.
Tehnik dengan elektrocauter. Dengan elektrokauter pendarahan akan minimal, tetapi luka yang dibentuk adalah luka bakar listrik. Jaringan parut yang terjadi akan banyak. Banyak oknum yang mengkhitan dengan cara ini mengiklankan kepada pasien sebagai khitan laser. Untuk membedakah apakah benar khitan laser ataupun elektrokauter.
Electrocauter
Laser
Jaringan parut luas
Jaringan parut minimal
Penyembuhan lama karena banyak jaringan rusak, pembuluh darah kecil rusak
Jaringan yang rusak hanya pada bagian yang terkena “kepala/hand piece” laser
Tepian luka relatif kurang rata
Tepi luka rata
Harga relatif murah
Harga mahal

Khitan dengan laser memang sangat ideal, tetapi tehnik ini memiliki kendala utama yaitu mahal. Alat untuk laser sekitar 1 milyar dan handpiece sekitar 9 juta. Satu handpiece dapat digunakan untuk 6 pasien dengan resterilisasi. Sehingga alat ini hanya akan dimiliki oleh rumah sakit besar. Perkiraan tarif khitan ini minimal 12 jutaan. Jika tarif jauh dibawah nilai tersebut kita dapat mencurigai apakah benar laser, ataukah mungkin rumah sakit masih memberikan subsidi? Khitan laser sangat berguna untuk pasien hemofilia dan gangguan pembekuan darah lainnya.

Tehnik yang menjadi standar saat ini menggunakan pisau bedah dan gunting bedah yang sangat tajam. Dengan alat tersebut tepi luka halus/rata dan kerusakan jaringan hanya pada jaringan yang terkena pisau. Dengan kerusakan jaringan dan pembuluh darah kecil maka jaringan parut sangat sedikit dan penyembuhan akan cepat. Pendarahan akan terjadi. Kontrol perdarahan dilakukan dengan mengikat pembuluh darah dengan benang operasi khusus.

TAbel ICD 10 Tindakan Operasi Urologi

Jenis Tindakan Kode
amputasi penis 64.3
biopsi buli open 57.34
biopsi ginjal closed 55.23
biopsi ginjal open 55.24
biopsi penis 64.11
biopsi ureter endoskopik 56.32
biopsi ureter open 56.34
businasi 58.6
DJ stent 59.8
fulgurasi uretra 58.31
insisi abses prostat 60.0
ligasi vena spermatika 63.1
meatotomi 58.1
nefrektomi 55.52
nefrektomi bilateral 55.54
nefropeksi 55.7
Nefrostomi open 55.02
Nefrostomi PCNL DJ/UK Kateter 55.04
Nefrostomi perkutaneus 55.03
Nefrotomi 55.01
nefroureterektomi 55.51
open prostatektomi 60.61
operasi penis lain 64.9
orkidektomi bilateral 62.4
orkidektomi unilateral 62.3
orkiopeksi 62.5
pasang kateter urin 96.48
PCNL 55.04
radikal prostatektomi 60.5
rekonstruksi penis 64.44
release chordee 64.42
repair buli lain 57.8
repair ginjal 55.8
repair ureter 56.8
repair uretra 58.4
RPG 87.74
sachse 58.5
sirkumsisi 64.0
sistektomi parsial 57.6
sistektomi total 57.7
sistoskopi 57.32
sistostomi 57.17
sistotomi 57.11
spermatokelektomi 63.2
suture penis 64.41
Transplantasi ginjal Z 94.0
TULIP 60.21
TURBT 57.49
TURBT biopsi 57.33
TURP 60.29
ureterostomy (stoma) N 99.5
ureteroneosistostomi 56.51
ureterotomi 53.2
urethrotomi 58.0
uretroskopi 58.22
URS 56.0

Daftar ICD 10 Diagnosa Urologi


Diagnosa Penyakit Kode ICD
acute renal failure N 17.9
Abses Prostat N 41.2
Atonia buli N 31.2
Agenesis buli Q 64.5
Agenesis genitalia (female) Q 52.8
Agenesis penis Q 55.5
Agenesis testis Q 55.0
Agenesis ginjal unilateral Q 60.0
Agenesis ginjal bilateral
Batu Buli N 21.0
Batu ginjal N 20.0
Batu ginjal & ureter N 20.2
Batu prostat N 42.0
Batu ureter N 20.1
Batu uretra N 21.1
Batu cetak N 20.0
Bladder neck obstruction N 32.0
BPH N 40
BXO N 48.6
Ca adrenal C 74.0
Ca Buli C 67
Ca Buli, dinding ant C 67.3
Ca Buli, dinding lateral C 67.2
Ca Buli, dinding post C 67.4
Ca Buli, dome C 67.1
Ca Buli, trigonum C 67.0
Ca Pelvis renalis C 65
Ca Penis C 60
Ca Penis, batang C 60.2
Ca Penis, glans C 60.1
Ca Penis, prepusium C 60.0
Ca Prostat C 61
Ca urachus C 67.7
Ca Ureter C 66
Ca uretra C 68
chronic renal failure N 18.0
contracted kidney N 26
corpus alienum dr urethra T 19.0
condyloma accuminata A 63.0
DE organik N 48.4
Divertikel buli N 32.3
ejakulasi dini F 52.4
epididimitis N 45
Fimosis N 47
Fistel uretra N 36.0
Fistel vesika N 32.2
fistel vesiko-intestinal N 32.1
fistel vesiko-vagina N 82.0
Gagal ginjal kronis N 18
Gagal ginjal kronis, end stage N 18.0
Hidrokel N 43.0
Hidrokel terinfeksi N 43.1
Hidronefrosis N 13
Hidronefrosis, batu ureter, ginjal N 13.2
Hidronefrosis, infeksi N 13.6
Hidronefrosis, PUJO N 13.0
Hidronefrosis, striktur ureter N 13.1
Hidroureter N 13.4
Hipertonia buli N 31.8
Infeksi Penis N 48.2
insufisiensi renal N 19
Infertilitas N 46
Kaliektasis N 28.8
Kolik renal / ureter N 23
Leukoplakia N 48.0
Lichen planus L 43.9
Malrotasi ginjal Q 63.2
Neurogenic bladder L 28.0
Neurogenic bladder N 31.9
Orkitis N 45
Parafimosis N 47
Pionefrosis N 13.6
Pionefritis N 12
Polycystic kidney Q 61.3
Priapismus N 48.3
Prostatitis akut N 41.0
Prostatitis inflamasi non bakteri N 41.8
Prostatitis kronis N 41.1
Prostatitis lain N 41.9
Ren mobilis N 28.8
Retensi Urine R 33
ruptur buli trauma S 37.2
Ruptur buli non trauma N 32.4
sistitis akut N 30.0
sistitis interstisial N 30.1
sistitis kronis N 30.2
sistitis lain N 30.8
sistitis radiasi N 30.4
Spermatokel N 43.3
Stenosis UPJ kongenital Q 62.1
Striktur uretra N 35
Striktur uretra pasca infeksi N 35.1
Striktur uretra pasca trauma N 35.0
Torsio testis N 44
Tumor ginjal C 64
Tumor Testis C 62.1
Tumor Testis, UDT C 62.0
Ulkus Penis N 48.5
Ureterokel N 28.8
ureterokel kongenital Q 62.3
Urosepsis N 39.0
Uretritis N 34
Uretritis lainnya N 34.2
Uretritis Nonspesifik N 34.1
Wilm’s Tumor C 64